Langsung ke konten utama

Siapa Istri Pangeran Sidharta?

Agar Pangeran Siddharta bisa lebih melekat ke kehidupan duniawi,
para penasehat dan tetua dewan kerajaan menyarankan agar
pangeran segera menikah. Maka Raja Suddhodana mengirimkan
pesan dan mengutarakan hasratnya mendapatkan calon pengantin
yang sesuai bagi putranya ke seluruh keluarga Suku Sākya dan Suku
Koliyā. Para raja dari suku-suku tersebut menjawab dengan berkata,
‘Walaupun Siddhattha tampan dan kuat, tetapi ia tidak memiliki
berbagai keterampilan dan kecakapan sebagai seorang pangeran
yang memiliki jiwa pejuang. ’Ketika raja menyampaikan pesan ini
kepada Siddhattha, maka ia menjawab, ‘Ayahanda, kalau begitu,
buatkanlah sebuah sayembara dengan menabuh genderang di
kota bahwa Pangeran Siddhattha akan mempertunjukkan berbagai
kemampuan ilmu bela diri selama tujuh hari, sampaikan juga kepada
para raja dari Suku Sākya dan Suku Koliya yāitu tentang sayembara
ini.’
Di hari yang sudah ditentukan, sebuah panggung yang sangat
besar didirikan di banyak tempat di dalam taman kerajaan dimana
160,000 keluarga Suku Sākya dan Suku Koliyā berkumpul untuk
menyaksikan berbagai kemahiran yang dimiliki pangeran.
Di hadapan para sanak kerabat dan sejumlah besar penonton,
Pangeran Siddhattha mempertontonkan keterampilannya
menggunakan busur dan panah, 18 pengetahuan seni serta ilmu
lainnya yang harus diketahui oleh seorang pangeran.
Para sanak kerabat sangat puas dengan kemampuan pangeran dan
memberikan restu dengan cara mengirimkan putri mereka yang
telah didandani dengan cantik ke istana Pangeran Siddhattha. Ada sebanyak 40,000 gadis cantik di perayaan sayembara (svayamvara)
dimana Pangeran Siddhattha memilih calon pengantinnya. Satu per
satu dari gadis-gadis cantik ini melakukan prosesi untuk menarik
perhatian di hadapan pangeran. Pangeran akan memberikan
hadiah kepada setiap putri yang lewat di hadapannya sebagai
ungkapan perasaannya. Tetapi, hampir semua putri cantik sudah
lewat di hadapannya, dan tak satupun yang berhasil memenangkan
hati pangeran. Kemudian, Yasodharā, putri dari Raja Suppabuddha,
pemimpin Suku Koliyā, datang dengan tergesa-gesa. Pada
saat itu, semua hadiah sudah habis dibagikan, dan Pangeran
Siddhattha tidak memiliki hadiah lagi untuk Putri Yasodharā. Maka,
pangeran kemudian mengambil rangkaian permata dari lehernya
dan mengalungkannya di sekeliling pinggang putri tersebut.
Para menteri yang ada di sana yang berperan sebagai juri untuk
menentukan pemenangnya, mengetahui bahwa pangeran telah
memilih Yasodharā sebagai pengantinnya, 40,000 gadis-gadis
cantik lainnya menjadi pelayan di istana Pangeran Siddhattha.
Setelah kejadian ini, Raja Suddhodana berpikir bahwa ia telah
berhasil membuat pangeran untuk tetap tinggal di istana seumur
hidupnya sebagai anggota keluarga kerajaan. Jadi, raja mengadakan
tiga perayaan sekaligus di hari yang sama. Perayaan-perayaan itu
adalah upacara penobatan, upacara penyambutan, dan upacara
pernikahan. Selama 13 tahun Pangeran Siddhattha hidup bahagia
dan nyaman dalam kemewahan di tiga istana, tanpa mengetahui
apa yang terjadi di luar pintu gerbang kota. Orang tua dan lemah
serta orang sakit dilarang masuk. Mayat dari orang meninggal tidak
boleh terlihat oleh pangeran. Bahkan, bunga-bunga yang mulai
layupun disingkirkan dari taman.

Artikel Populer