Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2018

Sabda Sang Buddha Tentang Yang Tidak Terciptakan

Kisah Brahmana Yang Memiliki Keyakinan Kuat  DHAMMAPADA XXVI : 383 Suatu ketika, di Savatthi, hidup seorang brahmana yang sangat setia kepada Sang Buddha dan Ajaran-Nya. Setelah mendengar khotbah yang diberikan Sang Buddha, setiap hari, ia mengundang para bhikkhu datang ke rumahnya untuk menerima dana makanan. Ketika para bhikkhu telah sampai di rumahnya, ia memperlakukan mereka seperti arahat dan dengan hormat mempersilakan mereka untuk memasuki rumahnya. Mendapat perlakuan demikian, bhikkhu-bhikkhu yang masih belum mencapai tingkat kesucian (puthujjana) maupun bhikkhu-bhikkhu arahat merasa enggan hati dan memutuskan untuk tidak pergi ke rumah brahmana tersebut keesokan harinya. Ketika brahmana tersebut mengetahui bahwa para bhikkhu tidak lagi datang ke rumahnya, ia merasa tidak bahagia. Ia pergi menemui Sang Buddha dan memberitahu Beliau tentang para bhikkhu yang tidak lagi datang ke rumahnya. Sang Buddha memanggil para bhikkhu tersebut dan meminta penjelasan. Para bhikkhu me

Sabda Sang Buddha Tentang umur tua dan kematian

Kisah Para Wanita Yang Melaksanakan Peraturan Moral  DHAMMAPADA X : 135  Suatu ketika lima ratus wanita dari Savatthi berkunjung ke Vihara Pubbarama untuk melaksanakan tekad peraturan moral uposatha. Pendiri vihara itu adalah seorang wanita terkenal, Visakha, bertanya kepada kelompok-kelompok wanita itu mengapa mereka datang untuk melaksanakan kewajiban hari uposatha.  Visakha memperoleh jawab berbeda-beda dari kelompok-kelompok wanita yang berbeda jenjang usianya karena mereka datang ke vihara dengan alasan yang bermacam-macam.  Kelompok wanita yang jenjang usianya sudah tua melaksanakan kewajiban hari uposatha karena berharap memperoleh keuntungan/rejeki dan kebahagiaan surgawi lahir kembali sebagai dewa setelah meninggal dunia.  Kelompok wanita yang berjenjang usia setengah baya berharap tidak tinggal bersama dalam satu rumah dengan istri lain dari sang suami tercinta.  Kelompok wanita yang baru menikah berharap mendapatkan anak pertama lakilaki, dan kelompok wanita yang b

Sabda Sang Buddha Tentang umat manusia

Kisah Pendengar-pendengar Dhamma  DHAMMAPADA VI : 85-86  Pada suatu kesempatan, sekumpulan orang dari Savatthi membuat persembahan khusus kepada para bhikkhu secara bersama-sama dan mereka meminta para bhikkhu memberikan khotbah Dhamma sepanjang malam di tempat mereka. Pada saat itu banyak di antara para pendengar tidak dapat duduk sepanjang malam, dan mereka pulang lebih cepat; beberapa orang duduk dengan pemikiran yang mendalam sepanjang malam; tetapi kebanyakan dari mereka pada waktu itu mengantuk dan setengah tidur. Hanya sedikit orang yang mendengarkan dengan penuh perhatian khotbah Dhamma itu.  Pagi hari ketika para bhikkhu berkata kepada Sang Buddha tentang apa yang terjadi pada malam hari sebelumnya.  Beliau menjawab, "Kebanyakan orang terikat pada dunia ini, hanya sedikit orang yang dapat mencapai pantai seberang (nibbana)".  Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 85 dan 86 berikut ini:  Di antara umat manusia hanya sedikit yang dapat mencapai pantai sebe

Sabda Sang Buddha Tentang Tubuh Manusia Yang Rapuh

Kisah Uttara Theri  DHAMMAPADA XI : 148  Uttara Theri yang berusia 120 tahun, pada suatu hari ia berjalan kembali dari berpindapatta. Ia bertemu dengan seorang bhikkhu, dan memohon bhikkhu itu untuk menerima persembahan dana makanannya. Tanpa pertimbangan bhikkhu tersebut menerima semua dana makanannya, sehingga Uttara harus pergi tanpa membawa makanan sedikitpun. Hal yang sama terjadi dua hari berikutnya, sehingga selama tiga hari berturut-turut Uttara Theri tidak makan dan tubuhnya sangat lemas.  Pada hari keempat, ketika ia dalam perjalanan berpindapatta, ia bertemu dengan Sang Buddha di jalan yang sempit. Ia memberi hormat kepada Beliau, kemudian berjalan mundur. Pada saat ia berjalan mundur, secara tidak sengaja ia menginjak jubahnya sendiri dan kemudian terjatuh ke tanah dan kepalanya terluka.  Sang Buddha mendekati Uttara dan berkata, "Tubuhmu telah menjadi sangat tua dan lemah, akan segera hancur dan binasa".  Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 148 berik

Sabda Sang Buddha Tentang Tubuh Jasmani

Kisah Sirima   DHAMMAPADA XI : 147  Saat itu di Rajagaha tinggal seorang pelacur yang sangat cantik bernama Sirima. Setiap hari Sirima berdana makanan kepada delapan bhikkhu. Suatu ketika, salah seorang dari bhikkhu-bhikkhu itu mengatakan kepada bhikkhu lain betapa cantiknya Sirima dan setiap hari ia mempersembahkan dana makanan kepada para bhikkhu.  Mendengar hal ini, seorang bhikkhu muda langsung jatuh cinta pada Sirima meskipun belum pernah melihat Sirima. Hari berikutnya bhikkhu muda itu bersama dengan para bhikkhu yang lain pergi ke rumah Sirima untuk menerima dana makanan, pada hari itu Sirima sedang sakit. Tetapi karena Sirima ingin berdana makanan maka ia menerima kehadiran para bhikkhu.  Begitu bhikkhu muda tersebut melihat Sirima lalu bhikkhu muda berpikir, "Meskipun ia sedang sakit, ia sangat cantik!"  Bhikkhu muda tersebut memiliki hawa nafsu yang kuat terhadapnya.  Larut malam itu, Sirima meninggal dunia. Raja Bimbisara pergi menghadap Sang Buddha dan m

Sabda Sang Buddha Tentang tidak mengerti Dhamma

Kisah Udayi Thera  DHAMMAPADA V : 64  Udayi Thera sering mengunjungi, dan duduk di atas tempat duduk, di mana para thera terpelajar duduk pada waktu menyampaikan khotbah. Pada suatu kesempatan, beberapa bhikkhu tamu menyangka bahwa ia adalah seorang thera yang terpelajar, dan mereka mengajukan beberapa pertanyaan tentang lima kelompok unsur khandha. Udayi Thera tidak dapat menjawab pertanyaanpertanyaan tersebut, sebab beliau tidak mengerti sama sekali tentang Dhamma.  Para bhikkhu tamu sangat terkejut menemukan seseorang yang tinggal dalam satu vihara dengan Sang Buddha hanya mengetahui sedikit saja tentang khandha dan ayatana (dasar indria dan obyek indria).  Kepada para bhikkhu tamu itu Sang Buddha menerangkan keadaan Udayi Thera dalam syair 64 berikut ini:  Orang bodoh,  walaupun selama hidupnya bergaul dengan orang bijaksana, tetap tidak akan mengerti Dhamma,  bagaikan sendok yang tidak dapat merasakan rasa sayur.  Artikel ini bagian dari kategori Kisah Dhammapada Untuk

Sabda Sang Buddha Tentang tidak lagi bersedih dan tanpa ikatan

Kisah Mara  DHAMMAPADA XXVI : 385 Pada suatu kesempatan, Mara datang menemui Sang Buddha, menampakkan diri berujud manusia dan bertanya kepada Beliau, "Bhante! Anda sering mengucapkan kata 'param'. Apakah arti dari kata tersebut?" Sang Buddha, yang mengetahui bahwa Mara-lah yang bertanya tersebut, lalu menegurnya, "O, Mara yang jahat! Kata 'param' dan 'aparam' tidak berarti apapun bagimu. 'Param' berarti 'pantai seberang' yang hanya dapat dicapai oleh para arahat yang telah terbebas dari kekotoran batin".  Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 385 berikut:  Seseorang yang tidak lagi memiliki pantai sini  (enam landasan indria dalam)  atau pantai sana  (enam obyek indria luar),  ataupun kedua-duanya  (pantai sini dan pantai sana),  tidak lagi bersedih dan tanpa ikatan,  maka ia Kusebut seorang 'brahmana'  Artikel ini bagian dari kategori Kisah Dhammapada Untuk kamu yang ingin membaca semua artikel, silakan

Sabda Sang Buddha Tentang tidak lagi berbuat jahat melalui badan, ucapan, dan pikiran

Kisah Mahapajapati Gotami Theri  DHAMMAPADA XXVI :391  Mahapajapati Gotami adalah ibu tiri dari Buddha Gotama. Pada saat kematian Ratu Maya, tujuh hari setelah kelahiran Pangeran Siddhattha, Mahapajapati Gotami menjadi permaisuri dari Raja Suddohodana. Pada waktu itu, putra kandungnya sendiri, Nanda, baru berusia lima hari. Ia rela anak kandungnya sendiri diberi makan oleh pembantu, dan dirinya sendiri memberi makan Pangeran Siddhattha, calon Buddha. Maka, Mahapajapati Gotami telah melakukan pengorbanan besar bagi Pangeran Siddhattha.  Ketika Pangeran Siddhattha berkunjung ke Kapilavatthu setelah mencapai Ke-Buddha-an, Mahapajapati Gotami datang menemui Sang Buddha dan mohon agar kaum wanita juga diizinkan untuk memasuki pasamuan bhikkhuni. Tetapi Sang Buddha menolak memberi izin. Kemudian, Raja Suddhodana meninggal dunia setelah mencapai tingkat kesucian arahat.  Ketika Sang Buddha sedang berjalan di hutan Mahavana dekat Vesali, Mahapajapati, disertai oleh lima ratus wanita, be

Sabda Sang Buddha Tentang tidak bijaksana

Kisah Khanu-Kondanna  DHAMMAPADA VIII : 111  Setelah menerima pelajaran objek meditasi dari Sang Buddha, Kondanna pergi ke hutan untuk mempraktekkan meditasi dan di sana Kondanna mencapai tingkat kesucian arahat. Dalam perjalanan pulang untuk memberi penghormatan kepada Sang Buddha. Kondanna sangat lelah dan berhenti di perjalanan. Kondanna duduk di atas lempengan batu besar dan mengkonsentrasikan pikiran dalam jhana. Pada saat itu lima ratus orang perampok setelah merampok sebuah desa besar datang ke tempat Kondanna berada. Mereka mengira bhikkhu itu bagaikan tunggul pohon sehingga mereka menaruh tumpukan barang rampokan di sekitar tubuh beliau. Ketika hari mulai siang mereka menyadari bahwa apa yang mereka kira sebagai tunggul pohon pada kenyataannya adalah makhluk hidup. Kemudian mereka berpikir bahwa makhluk itu merupakan raksasa sehingga mereka lari dengan ketakutan.  Kondanna menyatakan kepada mereka bahwa ia hanya seorang bhikkhu, bukan raksasa, dan berkata kepada mereka a

Sabda Sang Buddha Tentang thera

Kisah Bhaddiya Thera  DHAMMAPADA XIX : 260, 261  Suatu hari, tiga puluh bhikkhu datang untuk memberikan penghormatan kepada Sang Buddha. Sang Buddha mengetahui bahwa telah tiba saatnya bagi ketiga puluh bhikkhu tersebut untuk mencapai tingkat kesucian arahat.  Maka Beliau bertanya kepada mereka apakah mereka telah melihat seorang thera saat mereka memasuki ruangan. Mereka menjawab bahwa mereka tidak melihat seorang thera tetapi mereka hanya melihat seorang samanera muda ketika mereka masuk.  Sang Buddha berkata kepada mereka, "Para bhikkhu! Orang tersebut bukanlah samanera, ia adalah seorang bhikkhu senior walaupun bentuk tubuhnya kecil dan sangat sederhana. Aku mengatakan bahwa seseorang tidak dapat disebut thera hanya karena ia berusia tua dan tampak seperti seorang thera; hanya ia yang memahami 'Empat Kesunyataan Mulia' dan tidak menyakiti orang lain yang dapat disebut seorang thera".    Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 260 dan 261 berikut ini:   

Sabda Sang Buddha Tentang Surga

Kisah Tissa Thera   DHAMMAPADA IX : 126  Ada seorang penggosok permata dan istrinya tinggal di Savatthi. Di sana juga berdiam seorang Thera yang telah mencapai tingkat kesucian arahat. Setiap hari pasangan ini memberi dana makanan kepada thera itu.  Suatu hari ketika penggosok permata itu sedang memegang daging, utusan Raja Pasenadi dari Kosala tiba dengan membawa sebutir ruby, yang meminta untuk dipotong, dan diasah sampai mengkilap. Si penggosok permata tersebut mengambil ruby dengan tangannya yang telah terkena darah, dan meletakkannya di atas meja serta pergi ke dalam rumah untuk mencuci tangannya.  Burung peliharaan keluarga ini melihat darah melumuri ruby dan mengira barang itu adalah sepotong daging, lalu mematuk serta menelannya di hadapan sang thera.  Ketika penggosok permata selesai mencuci tangannya dia menemukan bahwa ruby tersebut telah hilang. Dia bertanya kepada istri dan anaknya, dan mereka menjawab bahwa mereka tidak mengambilnya. Kemudian dia bertanya kepada

Sabda Sang Buddha Tentang Siswa Ananda Thera

Kisah Ananda Thera  DHAMMAPADA XXVI : 387 Saat itu adalah hari purnama sidhi di bulan ke tujuh (Assayuja), ketika Raja Pasenadi dari Kerajaan Kosala datang menemui Sang Buddha. Raja tampak gemerlapan dengan tanda-tanda kebesaran kerajaan yang megah.  Pada waktu itu, Kaludayi Thera juga sedang berada pada ruangan yang sama dan duduk pada ujung kerumunan. Beliau sedang dalam keadaan pencerapan kesadaran yang dalam (jhana). Tubuhnya bersinar terang, dan berwarna keemasan. Dari langit, Y.A. Ananda memperhatikan bahwa matahari sedang tenggelam dan bulan baru saja muncul, baik matahari maupun bulan memancarkan cahayanya.  Y.A. Ananda memandang gemerlapnya cahaya dari raja, sang thera, dan cahaya matahari dan bulan. Akhirnya, Y.A. Ananda melihat Sang Buddha, dan tiba-tiba merasa bahwa cahaya yang bersinar dari Sang Buddha jauh melampaui cahaya yang lainnya. Karena melihat Sang Buddha bersinar dalam kedamaian dan kemegahan Beliau, Y.A. Ananda segera menghampiri Sang Buddha, dan menyamb

Sabda Sang Buddha Tentang siklus kehidupan

Kisah Sariputta Thera  DHAMMAPADA VII : 95  Pada suatu akhir masa vassa; Sariputta Thera berangkat untuk suatu perjalanan bersama dengan beberapa pengikutnya. Seorang bhikkhu muda pengikutnya, yang memiliki dendam terhadap Sariputta Thera, mendekat kepada Sang Buddha dan memfitnah dengan mengatakan bahwa Sariputta Thera telah mencaci dan memukulnya.  Sang Buddha memanggil Sariputta Thera dan menanyakan apakah hal itu benar?  Sariputta menjawab, "Bhante, bagaimana mungkin seorang bhikkhu, yang dengan tenang menjaga pikirannya, berangkat dalam suatu perjalanan tanpa kesalahan, telah melakukan kejahatan terhadap bhikkhu pengikutnya? Saya seperti tanah yang tidak merasa senang ketika bunga-bunga tumbuh, dan tidak juga merasa marah ketika sampah dan kotoran teronggok di atasnya. Saya juga seperti keset, pengemis, kerbau jantan dengan tanduk yang patah; saya juga merasa jijik dengan kekotoran tubuh dan tidak lagi terikat dengan itu".  Ketika Sariputta Thera berbicara, bhi

Sabda Sang Buddha Tentang seseorang menjadi brahmana

Kisah Jatila, Seorang Brahmana DHAMMAPADA XXVI : 393  Suatu ketika, seorang pertapa brahmana berpikir sendiri bahwa Sang Buddha menyebut pengikutnya 'brahmana' dan bahwa dirinya adalah brahmana karena kelahirannya, seharusnya juga disebut seorang 'brahmana'. Karena berpikir demikian, ia pergi menemui Sang Buddha dan mengemukakan pandangannya.  Tetapi Sang Buddha menolak pandangannya, dan berkata, "O brahmana, Aku tidak menyebut seseorang brahmana karena ia membiarkan rambutnya terjalin atau hanya karena kelahirannya. Aku menyebut seseorang brahmana; hanya jika ia secara penuh memahami 'Empat Kebenaran Mulia'".  Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 393 berikut:  Bukan karena rambut dijalin,  keturunan, ataupun kelahiran, seseorang menjadi brahmana.  Tetapi orang yang memiliki kejujuran dan kebajikan  yang pantas menjadi seorang 'brahmana',  orang yang suci.  Artikel ini bagian dari kategori Kisah Dhammapada Untuk kamu yang ingin me

Sabda Sang Buddha Tentang Seorang yang layak disebut bhikkhu

Kisah Dermawan Hasil Pertama Pekerjaannya  DHAMMAPADA XXV : 367  Ketika Sang Buddha bersemayam di Vihara Jetavana, Beliau membabarkan syair 367 Kitab Suci Dhammapada, berkenaan kisah seorang brahmana yang mempunyai kebiasaan berdana lima macam hasil pertama yang diperoleh dari pekerjaannya sebagai seorang petani. Hasil pertama pertanian yang diberikan sebagai dana diambil pada saat panen, saat menguliti beras, saat menyimpan beras, saat memasak beras, dan saat menaruh nasi pada tempat nasinya.  Suatu hari Sang Buddha melihat brahmana dan istrinya itu dengan kemampuan batin luar biasa Beliau dan Beliau mengetahui bahwa saatnya sudah masak bagi brahmana dan istrinya mencapai tingkat kesucian anagami. Oleh karena itu Sang Buddha berkunjung ke tempat tinggal mereka dan berdiam diri di dekat pintu rumah brahmana untuk berpindapatta.  Pada saat itu brahmana sedang makan sambil melihat ke bagian dalam rumahnya, sehingga ia tidak melihat Sang Buddha berdiri di dekat pintu rumahnya. Ist

Sabda Sang Buddha Tentang seorang umat yang berbudi luhur dan sangat gemar memberikan dana

Di Savatthi ada seseorang yang bernama Dhammika. Ia seorang umat yang berbudi luhur dan sangat gemar memberikan dana. Selain sering memberikan dana makanan serta kebutuhan lain kepada para bhikkhu secara tetap, juga sering berdana pada waktu-waktu yang istimewa. Pada kenyataannya, ia merupakan pemimpin dari lima ratus umat Buddha yang berbudi luhur dan tinggal di dekat Savatthi.  Dhammika mempunyai tujuh orang putra dan tujuh orang putri. Sama seperti ayahnya, mereka semuanya berbudi dan tekun berdana. Ketika Dhammika jatuh sakit, dan berbaring di tempat tidurnya ia membuat permohonan kepada Sangha untuk datang kepadanya, untuk membacakan paritta-paritta suci di samping pembaringannya.  Ketika para bhikkhu membacakan "Mahasatipatthana Sutta", enam kereta berkuda yang penuh hiasan dari enam alam surga datang mengundangnya pergi ke masingmasing alam. Dhammika berkata kepada mereka untuk menunggu sebentar, takut kalau mengganggu pembacaan sutta. Bhikkhu-bhikkhu itu berpikir b

Sabda Sang Buddha Tentang seorang penjagal babi yang sangat kejam dan keras hati

Pada suatu dusun tidak jauh dari Vihara Veluvana, hidup seorang penjagal babi yang sangat kejam dan keras hati, bernama Cunda. Ia adalah penjagal babi yang sudah berusia lebih dari lima puluh tahun; selama hidupnya dia belum pernah melakukan suatu perbuatan yang bermanfaat. Sebelum dia meninggal, dia sakit parah dan mengalami penderitaan yang berat. Dia mendengkur, berteriak-teriak dan seperti babi selama tujuh hari. Sebelum meninggal dunia, dia mengalami penderitaan seperti kalau dia berada di neraka (niraya). Pada hari ketujuh, penjagal babi itu meninggal dunia, dan dilahirkan kembali di Neraka Avici (Avici Niraya).  Beberapa bhikkhu yang dalam beberapa hari berturut-turut mendengar teriakanteriakan dan kegaduhan dari rumah Cunda berpikir, pastilah Cunda sedang sibuk membunuhi lebih banyak babi. Mereka berpendapat bahwa Cunda adalah seorang yang sangat kejam dan keji. Yang tidak mempunyai cinta kasih dan belas kasihan sedikitpun.  Mendengar pergunjingan para bhikkhu tadi, Sang B

Sabda Sang Buddha Tentang seorang manusia agung

Kisah Mara  DHAMMAPADA XXIV : 351, 352  Pada suatu waktu, sejumlah besar bhikkhu tiba di Vihara Jetavana. Untuk memberi tempat menginap bagi para bhikkhu tamu, Samanera Rahula harus pergi dan tidur dekat pintu, tepat di luar kamar Sang Buddha. Mara ingin mengganggu Sang Buddha melalui putra-Nya, ia mengubah badan menjadi gajah, dan membelit kepala samanera itu dengan belalainya serta membuat suara keras dengan harapan untuk menakut-nakutinya. Tetapi Rahula tidak bergerak.  Sang Buddha dari kamar-Nya mengetahui apa yang sedang terjadi dan berkata, "O, Mara licik! Bahkan seratus sepertimu tidak akan mampu menakut-nakuti anak-Ku. Anak-Ku tidak takut, ia bebas dari nafsu, ia waspada, dan ia bijaksana".  Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 351 dan 352 berikut ini:  Orang yang telah mencapai tujuan akhir,  tidak lagi mempunyai rasa takut,  noda batin serta nafsu keinginan,  sesungguhnyalah ia telah mematahkan ruji-ruji kehidupan.  Bagi orang suci (arahat) seperti itu, 

Sabda Sang Buddha Tentang Seorang bhikkhu yang selalu berdiam dalam Dhamma

Kisah Dhammarama Thera  DHAMMAPADA XXV : 364  Ketika beredar berita di kalangan para murid bahwa Sang Buddha akan mangkat (parinibbana) dalam waktu empat bulan lagi; banyak di antara para bhikkhu puthujjana, yang belum mencapai tingkat kesucian mengalami tekanan batin, merasa akan kehilangan. Mereka tidak tahu apa yang akan dilakukannya. Pada umumnya mereka berusaha berada dekat dengan Sang Buddha, tidak ingin bepergian jauh dari Beliau.  Ketika itu ada seorang bhikkhu yang bernama Dhammarama yang tinggal menyendiri dan tidak pergi mendekat kepada Sang Buddha. Perhatian beliau diarahkan pada perjuangannya untuk mencapai tingkat kesucian arahat sebelum Sang Buddha meninggal dunia. Ia melaksanakan meditasi 'Pandangan Terang' (Vipassana Bhavana) dengan tekun. Kawan-kawan bhikkhu lain tidak mengerti apa harapan beliau dan apa yang sedang dilakukannya, mereka memiliki pengertian keliru perihal kelakuan Bhikkhu Dhammarama itu.  Kawan-kawan bhikkhu tersebut bersama Bhikkhu Dha

Sabda Sang Buddha Tentang Seorang bhikkhu yang merasa iri

Kisah Bhikkhu Yang Berteman Dengan Bhikkhu Pengikut Devadatta  DHAMMAPADA XXV : 365, 366  Suatu ketika seorang bhikkhu murid Sang Buddha berteman akrab dengan pengikut Devadatta. Ia sering berkunjung dan tinggal selama beberapa hari di vihara tempat Devadatta berdiam.  Bhikkhu-bhikkhu lain melaporkan hal itu kepada Sang Buddha, bahwa terdapat seorang bhikkhu murid Sang Buddha yang bergaul akrab dengan pengikut-pengikut Devadatta, sehingga ia sering berkunjung, bahkan menginap beberapa hari, makan, tidur, dan menikmati berbagai fasilitas yang terdapat pada vihara milik Devadatta.  Sang Buddha mengundang bhikkhu itu, dan meminta keterangan darinya. Sang Buddha mengatakan bahwa Beliau telah mendengar berita tentang kelakuan bhikkhu tersebut, apakah berita itu benar. Bhikkhu itu mengakui bahwa ia telah berdiam beberapa hari di vihara milik Devadatta, tetapi ia berkata kepada Sang Buddha bahwa ia tidak mengikuti ajaran Devadatta.  Kemudian Sang Buddha menegur dan menunjukkan bahwa a

Sabda Sang Buddha Tentang Seorang bhikkhu bijaksana

Kisah Bhikkhu Kokalika  DHAMMAPADA XXV : 363  Bhikkhu Kokalika telah berkata kasar dan kejam kepada dua murid utama Sang Buddha, Sariputta dan Maha Moggallana. Oleh karena perbuatan buruknya itu Kokalika terkena musibah dan meninggal dunia, lahir kembali di alam Neraka Paduma. Mengetahui kejadian itu, para bhikkhu mengatakan bahwa Kokalika telah mengalami penderitaan di alam neraka karena ia tidak bisa mengendalikan lidahnya.  Kepada para bhikkhu tersebut, Sang Buddha berkata, "Para bhikkhu, seorang bhikkhu hendaknya berusaha mengendalikan lidahnya; tingkah lakunya harus baik; pikirannya harus tenang, bisa dikendalikan, dan tidak mengejar obyek-obyek yang menyenangkan".   Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 363 berikut:  Seorang bhikkhu yang mengendalikan lidahnya,  yang berbicara dengan bijaksana dan tidak sombong,  yang dapat menerangkan Dhamma beserta artinya, maka akan kedengaran indah ucapannya.  Artikel ini bagian dari kategori Kisah Dhammapada Untuk kamu

Sabda Sang Buddha Tentang semangat, disiplin dan pengendalian diri

Bendahara Kerajaan di Rajagaha mempunyai dua orang cucu laki-laki bernama Mahapanthaka dan Culapanthaka. Mahapanthaka, yang tertua, selalu menemani kakeknya mendengarkan khotbah Dhamma. Kemudian Mahapanthaka bergabung menjadi murid Sang Buddha. Culapanthaka mengikuti jejak kakaknya menjadi bhikkhu pula. Tetapi, karena pada kehidupannya yang lampau pada masa keberadaan Buddha Kassapa, Culapanthaka telah menggoda seorang bhikkhu yang sangat bodoh, maka dia dilahirkan sebagai orang dungu pada kehidupannya saat ini. Dia tidak mampu mengingat meskipun hanya satu syair dalam empat bulan. Mahapanthaka sangat kecewa dengan adiknya dan mengatakan bahwa adiknya tidak berguna. Suatu waktu, Jivaka datang ke vihara mengundang Sang Buddha dan para bhikkhu yang ada, untuk berkunjung makan siang di rumahnya. Mahapanthaka, yang diberi tugas untuk memberitahu para bhikkhu tentang undangan makan siang tersebut, mencoret Culapanthaka dari daftar undangan. Ketika Culapanthaka mengetahui hal itu dia mera

Sabda Sang Buddha Tentang sahabat yang berkelakuan baik, pandai dan bijaksana

Kisah Sejumlah Bhikkhu  DHAMMAPADA XXIII : 328, 329, 330 Suatu saat para bhikkhu dari Kosambi terpecah menjadi dua kelompok. Satu kelompok mengikuti ahli Vinaya, dan kelompok lainnya mengikuti guru Dhamma. Mereka Tidak mau memperhatikan meskipun Sang Buddha mendesak mereka untuk berdamai. Sehingga Sang Buddha meninggalkan mereka menghabiskan masa vassa seorang diri berada di hutan, di mana Gajah Palileyyaka melayani Beliau. Akhir masa vassa Y.A. Ananda pergi ke dalam hutan disertai dengan lima ratus bhikkhu. Dengan meninggalkan para bhikkhu pada suatu jarak tertentu, Y.A. Ananda sendiri mendakati Sang Buddha. Kemudian Sang Buddha menyuruh Ananda untuk memanggil para bhikkhu yang lain. Mereka semua datang, memberi hormat kepada Sang Buddha dan berkata, "Bhante! Bhante pasti telah mengalami kesulitan menghabiskan masa vassa seorang diri di hutan ini". Sang Buddha kemudian menjawab, "Para bhikkhu, jangan berkata demikian, Gajah Palileyyaka telah merawatKu sepanjang

Sabda Sang Buddha Tentang Sabda Sang Buddha Tentang sebab dari penderitaan

Kisah Lima Ratus Anak Laki-laki  DHAMMAPADA XVI : 217  Pada suatu hari festival, Sang Buddha memasuki kota Rajagaha untuk berpindapatta dengan ditemani oleh sejumlah bhikkhu. Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan lima ratus anak laki-laki yang sedang berjalan menuju ke suatu taman yang indah. Anak-anak itu membawa beberapa keranjang kue bakar tetapi mereka tidak memberikan satupun kepada Sang Buddha dan para bhikkhu.  Sang Buddha berkata kepada para bhikkhu, "Para bhikkhu, kamu akan memakan kue bakar itu hari ini; pemiliknya akan datang mendekati kita. Kita akan mendapatkannya hanya setelah ada yang mengambil beberapa kue bakar".  Setelah mengatakan hal itu, Sang Buddha dan para bhikkhu berteduh di bawah pohon.  Pada waktu itu Kassapa Thera datang ke sana sendirian. Anak-anak itu melihatnya dan kemudian menghormat Kassapa Thera, serta mendanakan kue bakar mereka kepada Sang Thera.  Kassapa Thera kemudian berkata kepada anak-anak itu, "Guruku Yang Mulia ber

Sabda Sang Buddha Tentang Ruang Angkasa

Kisah Subhadda Si Pertapa Pengembara  DHAMMAPADA XVIII : 254, 255 Subhadda, si pertapa pengembara sedang menetap di Kusinara ketika mendengar bahwa Buddha Gotama akan mangkat, mencapai parinibbana pada waktu jaga terakhir malam itu. Subhadda mempunyai tiga pertanyaan yang telah lama membingungkannya. Ia telah menanyakan pertanyaan tersebut kepada guru-guru agama yang lain, misalnya Purana Kassapa, Makkhali Gosala, Ajita Kesakambala, Pakudha Kaccayana, Sancaya Belatthaputta, dan Nigantha Nataputta, tetapi jawaban mereka tidak memuaskan baginya. Ia belum bertanya kepada Buddha Gotama, dan ia merasa bahwa Sang Buddha-lah yang mampu menjawab pertanyaan-pertanyaannya. Maka, ia bergegas pergi ke hutan pohon Sala, tetapi Y.A. Ananda tidak mengizinkannya bertemu dengan Sang Buddha, karena saat itu kondisi kesehatan Sang Buddha sangat lemah. Sang Buddha mendengar percakapan mereka dan Beliau berkenan untuk menemui Subhadda. Subhadda menanyakan tiga pertanyaan, yaitu: 1. Apakah ada jalan

Sabda Sang Buddha Tentang Rasa Malu

Kisah Culasari  DHAMMAPADA XVIII: 244, 245 Suatu hari, Culasari berjalan pulang dari mengunjungi seorang pasien. Dalam perjalanan ia berjumpa Sariputta Thera dan bercerita bagaimana ia merawat seorang pasien serta mendapatkan makanan enak untuk pelayanannya. Ia juga meminta Sariputta Thera untuk menerima darinya sebagian dari makanan tersebut. Sariputta Thera tidak mengatakan apapun kepadanya melainkan terus melanjutkan perjalanannya. Sariputta Thera menolak menerima makanan dari bhikkhu itu karena bhikkhu tersebut telah melanggar peraturan yang melarang para bhikkhu membuka praktek pengobatan.  Bhikkhu-bhikkhu lain melaporkan hal ini kepada Sang Buddha dan Beliau berkata kepada mereka, "Para bhikkhu! Seorang bhikkhu yang tidak tahu malu itu buruk dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan. Ia sombong seperti seekor gagak, ia menghidupi diri dengan cara yang melanggar peraturan dan hidup dalam kenikmatan. Di sisi lain, kehidupan bagi seorang bhikkhu yang memiliki malu tidaklah

Sabda Sang Buddha Tentang rasa ingin memiliki

Kisah Mara  DHAMMAPADA XV : 200  Pada satu kesempatan, Sang Buddha dengan kemampuan batin luar biasa Beliau, melihat lima ratus gadis dari Desa Pancasala yang akan mencapai tingkat kesucian sotapatti. Oleh karena itu Sang Buddha pergi dan tinggal di dekat desa tersebut. Kelima ratus gadis pergi mandi ke sungai; setelah selesai mandi mereka pergi ke desa dengan berpakaian lengkap, karena hari itu hari festival.  Pada waktu yang bersamaan, Sang Buddha memasuki Desa Pancasala untuk berpindapatta, tetapi tidak seorang pun penduduk desa memberi dana kepada Sang Buddha karena mereka telah dipengaruhi oleh Mara.  Pada saat perjalanan pulang Sang Buddha bertemu dengan Mara, yang dengan cepat bertanya pada Sang Buddha apakah Sang Buddha sudah menerima dana makanan cukup?  Sang Buddha melihat kedatangan Mara bersamaan dengan kegagalan Beliau untuk mendapatkan dana makanan pada hari itu dan berkata, "Kamu Mara jahat, adalah kamu yang menyuruh penduduk desa untuk menolak saya. Karena

Sabda Sang Buddha Tentang rakus akan makanan

Kisah Raja Pasenadi Dari Kosala  DHAMMAPADA XXIII : 325  Suatu hari, Raja Pasenadi dari Kosala pergi ke vihara untuk memberi hormat kepada Sang Buddha setelah raja bersantap dengan banyak. Raja mempunyai kebiasaan makan seperempat sangku (setengah gantang) nasi dan kari daging. Saat di hadapan Sang Buddha, raja merasa sangat mengantuk sehingga ia terus menerus terangguk-angguk menahan kantuk dan hampir tidak dapat mempertahankan dirinya untuk tetap terjaga.  Kemudian ia berkata kepada Sang Buddha, "Bhante! Saya merasa sangat tidak nyaman setelah saya makan".  Padanya, Sang Buddha menjawab, "O Raja! Orang serakah banyak makan benar-benar menderita dengan cara seperti itu".  Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 325 berikut:     Jika seseorang menjadi malas, serakah,  rakus akan makanan dan suka merebahkan diri,  sama seperti babi hutan yang berguling-guling kesana kemari.  Orang yang bodoh ini akan terus menerus dilahirkan.    Setelah mendengar khotbah

Sabda Sang Buddha Tentang Pikiran

Suatu hari, tinggallah di Savatthi, seorang bhikkhu senior yang bernama Samgharakkhita. Ketika kakak perempuannya melahirkan anak laki-laki, ia memberi nama anaknya Samgharakkhita Bhagineyya. Keponakan Samgharakkhita, pada waktu itu, juga memasuki pasamuan Sangha.  Ketika bhikkhu muda tinggal di suatu vihara desa, ia diberi dua buah jubah, dan ia bermaksud memberikan satu jubah kepada pamannya, Samgharakkhita Thera. Akhir masa vassa, bhikkhu muda itu pergi ke pamannya untuk memberi hormat kepadanya dan memberikan jubah. Tetapi pamannya menolak untuk menerima jubah itu, dan berkata bahwa ia sudah mempunyai cukup. Walaupun bhikkhu muda mengulangi lagi permintaannya, pamannya tetap tidak mau. Bhikkhu muda itu merasa sakit hati dan berpikir bahwa sejak saat itu pamannya tidak sudi untuk berbagi kebutuhan dengannya. Akan lebih baik baginya untuk meninggalkan pasamuan Sangha dan hidup sebagai seorang perumah tangga.  Dari masalah itu, pikirannya mengembara dari pikiran yang satu ke pikira

Sabda Sang Buddha Tentang Pikiran yang tidak dikembangkan dengan baik

Suatu ketika Sang Buddha menetap di Vihara Veluvana, Rajagaha. Waktu itu ayahNya, Raja Suddhodana, berulangkali mengirim utusan kepada Sang Buddha, meminta Beliau mengunjungi kota Kapilavatthu. Memenuhi permintaan ayahnya, Sang Buddha mengadakan perjalanan dengan diikuti oleh sejumlah besar arahat.  Saat tiba di Kapilavatthu Sang Buddha bercerita tentang Vessantara Jataka di hadapan pertemuan saudara-saudaranya. Pada hari kedua, Sang Buddha memasuki kota, dengan mengucapkan syair berawal "Uttitthe Nappamajjeyya..." (artinya seorang harus sadar dan tidak seharusnya menjadi tidak waspada...). Beliau menyebabkan ayah-Nya mencapai tingkat kesucian sotapatti.  Ketika tiba di dalam istana, Sang Buddha mengucapkan syair lainnya berawal "Dhammam Care Sucaritam..." (artinya seseorang seharusnya mempraktekkan Dhamma...), dan sang raja berhasil mencapai tingkat kesucian sakadagami.  Setelah bersantap makanan, Sang Buddha menceritakan tentang Candakinnari Jataka, berkenaan

Sabda Sang Buddha Tentang pikiran yang telah bebas dari segala sesuatu

Kisah Uggasena  DHAMMAPADA XXIV : 348  Suatu saat rombongan pemain drama keliling yang terdiri atas lima ratus penari dan beberapa pemain akrobat datang ke Rajagaha. Mereka mengadakan pertunjukan di dalam lingkungan istana Raja Bimbisara selama tujuh hari. Di sana seorang penari muda yang merupakan putri seorang pemain akrobat bernyanyi dan menari di atas sebuah galah bambu yang panjang.  Uggasena, putra yang masih muda dari seorang hartawan, jatuh cinta dengan penari itu. Orang tuanya tidak dapat mencegah keinginan putranya untuk menikah dengan gadis tersebut. Ia menikahi penari muda itu dan mengikuti rombongan tersebut. Karena Uggasena bukan seorang penari juga bukan pemain akrobat maka ia benar-benar tidak berguna bagi rombongan tersebut. Sehingga saat rombongan itu pindah dari satu tempat ke tempat lain, ia hanya membantu mengangkut kotak-kotak, mengemudikan kereta, dan lain-lainnya.  Pada suatu saat seorang anak laki-laki lahir dari pasangan Uggasena dan istrinya, sang pen

Sabda Sang Buddha Tentang pikiran susah dikendalikan

Pada suatu waktu Meghiya Thera menghadap menghadap Sang Buddha dan tinggal beberapa waktu di sana. Pada suatu kesempatan, dalam perjalanan pulang setelah menerima dana makanan, Meghiya Thera tertarik pada suatu hutan mangga yang menyenangkan dan indah.  "Hutan ini demikian indah dan tenang, cocok untuk tempat berlatih meditasi", demikian pikirnya.  Setibanya di vihara, ia segera menghadap Sang Buddha dan meminta ijin agar diperbolehkan segara pergi ke sana.  Mulanya, Sang Buddha meminta dia agar menundanya untuk beberapa waktu, karena dengan hanya menyenangi tempat saja tidak akan menolong memajukan meditasi.  Tetapi Meghiya Thera ingin segera pergi, lalu ia mengulangi dan mengulangi lagi permohonannya. Akhirnya Sang Buddha mengatakan agar melakukan apa yang dia inginkan.  Segera Meghiya Thera pergi ke hutan mangga, duduk di bawah pohon dan berlatih meditasi. Tetapi pikirannya berkeliaran terus, tanpa tujuan, dan sukar berkonsentrasi.  Sore harinya, dia kembali dan m

Sabda Sang Buddha Tentang pikiran tak pernah puas

Kisah Patipujika Kumari  DHAMMAPADA IV : 48  Patipujika Kumari adalah seorang wanita dari Savatthi. Dia menikah pada usia 16 tahun dan mempunyai empat orang putra. Patipujika Kumari merupakan seorang wanita yang baik budi dan murah hati, suka memberikan dana makanan dan kebutuhan lain kepada para bhikkhu. Dia juga sering pergi ke vihara dan membersihkan halaman, mengisi tempat air, dan memberikan pelayanan lainnya.  Patipujika juga mempunyai kemampuan "jatissara", yaitu kemampuan batin untuk mengingat kehidupannya yang lampau dimana dia adalah salah seorang istri Malabhari, yang tinggal di alam dewa Tavatimsa. Dia juga ingat bahwa dia telah meninggal dunia di alam dewa ketika para dewa sedang berjalan-jalan dan menikmati kesenangan di taman, dan memetik bunga-bunga.  Maka, setiap saat dia berdana kepada para bhikkhu atau melakukan perbuatanperbuatan baik lainnya, dia berharap dapat dilahirkan kembali di alam dewa Tavatimsa sebagai istri Malabhari, suaminya dahulu. 

Sabda Sang Buddha Tentang Perzinaan

Kisah Seorang Pemuda  DHAMMAPADA V : 60  Suatu hari Raja Pasenadi dari Kosala sedang berjalan-jalan di kota. Secara tidak sengaja beliau melihat seorang wanita muda berdiri dekat jendela rumahnya dan beliau langsung jatuh cinta. Raja mencoba untuk menemukan berbagai cara dan kesempatan untuk mendapatkannya. Setelah mengetahui bahwa wanita muda itu telah menikah, raja memanggil suami wanita muda tersebut dan dijadikan pelayan di istana.  Suatu ketika raja memerintahkan suami wanita muda itu untuk melakukan suatu pekerjaan yang sangat sulit. Pemuda itu diperintahkan untuk pergi ke suatu tempat, satu yojana (dua belas mil) jauhnya dari Savatthi, serta membawa pulang beberapa bunga teratai Kumuda dan sedikit tanah merah yang dikenal dengan nama Arunavati, tanahnya Naga, dan kembali ke Savatthi pada sore yang sama, pada waktu raja mandi. Tujuan raja adalah untuk membunuh suami wanita muda tersebut jika ia gagal kembali pada waktu yang telah ditentukan, dan mengambil wanita muda itu

Sabda Sang Buddha Tentang Pertengkaran

Suatu waktu, bhikkhu-bhikkhu Kosambi terbentuk menjadi dua kelompok. Kelompok yang satu pengikut guru ahli vinaya, sedang kelompok lain pengikut guru ahli Dhamma. Mereka sering berselisih paham sehingga menyebabkan pertengkaran. Mereka juga tak pernah mengacuhkan nasehat Sang Buddha. Berkali-kali Sang Buddha menasehati mereka, tetapi tak pernah berhasil, walaupun Sang Buddha juga mengetahui bahwa pada akhirnya mereka akan menyadari kesalahannya.  Maka Sang Buddha meninggalkan mereka dan menghabiskan masa vassa-Nya sendirian di hutan Rakkhita dekat Palileyyaka. Di sana Sang Buddha dibantu oleh gajah Palileyya.  Umat di Kosambi kecewa dengan kepergian Sang Buddha. Mendengar alasan kepergian Sang Buddha, mereka menolak memberikan kebutuhan hidup para bhikkhu di Kosambi.  Karena hampir tak ada umat yang menyokong kebutuhan para bhikkhu, mereka hidup menderita. Akhirnya mereka menyadari kesalahan mereka, dan menjadi rukun kembali seperti sebelumnya.  Namun, umat tetap tidak memperlakuk

Sabda Sang Buddha Tentang pertapa (samana)

Kisah Bhikkhu Hatthaka  DHAMMAPADA XIX : 264, 265  Bhikkhu Hatthaka mempunyai kebiasaan menantang para pertapa bukan pengikut Sang Buddha agar menjumpainya di suatu tempat tertentu untuk berdebat mengenai masalah-masalah keagamaan. Kemudian ia akan pergi seorang diri ke tempat yang telah dijanjikan.  Jika tidak seorang pun muncul ia akan membual, "Lihat, pertapa-pertapa pengembara itu tidak berani menjumpaiku, mereka telah kukalahkan!" Dan hal-hal semacam lainnya.  Sang Buddha memanggil Hatthaka, dan berkata, "Bhikkhu! Mengapa engkau bertingkah laku demikian? Orang yang mengatakan hal-hal semacam itu tidak dapat menjadi seorang samana meskipun kepalanya gundul. Hanya orang yang telah menyingkirkan semua kejahatan dari dirinya yang dapat disebut seorang samana".    Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 264 dan 265 berikut ini:    Seseorang yang tidak memiliki disiplin dan suka berdusta  tidak dapat disebut seorang pertapa (samana) walaupun ia berkepala gun

Sabda Sang Buddha Tentang Permusuhan

Ada seorang laki-laki perumah tangga mempunyai istri yang mandul. Karena merasa mandul dan takut diceraikan oleh suaminya, ia menganjurkan suaminya untuk menikah lagi dengan wanita lain yang dipilih olehnya sendiri. Suaminya menyetujui dan tak berapa lama kemudian istri muda itu mengandung.  Ketika istri mandul itu mengetahui bahwa madunya hamil, ia menjadi tidak senang. Dikirimkannya makanan yang telah diberi racun, sehingga istri muda itu keguguran. Demikian pula pada kehamilan yang kedua. Pada kehamilannya yang ketiga, istri muda itu tidak memberi tahu kepada istri tua. Karena kondisi fisiknya kehamilan itu diketahui juga oleh istri tua. Berbagai cara dicoba oleh istri tua agar kendungan madunya itu gugur lagi, yang akhirnya menyebabkan istri muda itu meninggal pada saat persalinan. Sebelum meninggal, wanita malang itu dengan hati yang dipenuhi kebencian bersumpah untuk membalas dendam kepada istri tua.  Maka permusuhan itupun dimulai.  Pada kelahiran berikutnya, istri tua dan

Sabda Sang Buddha Tentang Perenungan Terhadap Kematian

Kisah Bhikkhu-bhikkhu Adhimanika  DHAMMAPADA XI : 149  Setelah lima ratus bhikkhu menerima objek meditasi yang diberikan Sang Buddha, mereka pergi ke hutan. Di sana mereka melatih meditasi dengan bersemangat dan rajin sehingga mencapai "Penunggalan Kesadaran" (jhana). Setelah mencapai Jhana mereka berpikir bahwa mereka telah bebas dari hawa nafsu oleh karena itu mereka telah mencapai tingkat kesucian arahat.  Padahal kenyataannya, mereka hanya menilai dirinya sendiri berlebihan. Mereka pergi menjumpai Sang Buddha dengan maksud untuk memberitahukan tentang pencapaian ke-arahat-an mereka.  Ketika mereka tiba di gerbang luar vihara, Sang Buddha berkata kepada Y.A. Ananda, "Bhikkhu-bhikkhu itu tidak akan mendapat banyak manfaat apabila menemui-Ku sekarang, biarkan mereka pergi ke kuburan sekarang, baru kemudian menemui-Ku sesudahnya".  Kemudian Ananda memberitahukan pesan Sang Buddha kepada para bhikkhu, dan mereka merenung, "Sang Buddha mengetahui segalany