Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Alam Kehidupan

Inilah Surga Tingkat Ketujuh : Paranimmitavatti

Paranimmitavatti Secara harafiah berarti “Alam Para Dewa yang membuat ciptaan pihak lain bermanfaat untuk tujuan-tujuan mereka sendiri”. Ini adalah saf-ketujuh / langit ketujuh dari alam Sugati. Merupakan alam Surga / Dewa sekaligus alam Sugati yang tertinggi. Namun, sejatinya, ini bukanlah alam “Sang-Pencipta-Semesta”, bukanlah “Yang-Mutlak, Yang-Tidak-Tercipta”. Enam ( 6 ), kecuali yang pertama adalah Alam Para Dewa yang bentuk tubuhnya lebih halus dan lembut dibandingkan dengan bentuk tubuh manusia dan tidak kelihatan dengan mata telanjang. Makhluk-makhluk Dewa ini juga tunduk pada kematian seperti halnya semua makhluk hidup. Alam Dewa ini dalam terminology agama samawi adalah alam-alam surga, tempat para manusia yang beramal-soleh, bajik, kelak akant terlahir, yang digambarkan seorang laki-laki akan mendapatkan hak bidadari-bidadari cantik sebagai istrinya, dan adanya aliran sungai yang dialiri air susu. Kurang lebih memang alam kesenangan ini demikian. Dalam beberapa hal, sep...

Inilah Surga Tingkat Keenam : Nimmanarati

Nimmanarati Secara harafiah berarti “Alam Para Dewa yang Senang dalam Istana yang Diciptakan”. Para dewa di alam ini hidup dengan penuh kesenangan-kesenangan didalam istana yang mereka ciptakan sendiri. Layaknya bangsawan-bangsawan dan para saudagar di alam manusia, mereka hidup “mewah”, berkecukupan, berkelimpahan, mempunyai para pembantu / pelayan / pengikut. Ini adalah alam saf keenam dari alam Sugati.

Inilah Surga Tingkat Kelima : Tusita ( Tusitabhûmi )

Tusita ( Tusitabhûmi ). Secara harafiah berarti, penghuni yang berbahagia, adalah “Alam Kesenangan”. Para Boddhisatta yang telah memenuhi persyaratan-persyaratan Kebuddhaan bertempat tinggal di alam ini sampai saat yang tepat bagi mereka untuk muncul di alam manusia untuk mencapai Kebuddhaan. Tusitabhûmi adalah alam surgawi tingkat keempat. Para dewa-dewi yang hidup di alam ini senantiasa berceria atas keberadaan yang dimiliki. Semua Bodhisatta, sebelum turun ke dunia dan meraih Pencerahan Agung, terlahirkan di alam ini untuk menanti waktu yang tepat bagi kemunculan seorang Buddha. Demikian pula mereka yang akan menjadi orangtua serta Siswa Utama ( Aggasâvaka ). Sekarang ini, Bodhisatta Metteyya yang akan menjadi Sammâsambuddha setelah ajaran Buddha Gotama punah dari muka bumi ini sedang berada di alam ini. Usia rata-rata di alam ini ialah 4,000 tahun dewa atau kira-kira 567 juta tahun manusia. Saat ini Bodhisatta Metteya tengah hidup dan bersemayam di alam ini. Alam ini adalah sa...

Inilah Surga Tingkat Keempat : Yama ( Yâmâbhûmi )

Yama ( Yâmâbhûmi ) Secara harafiah berarti “Alam para Dewa Yama”. Dewa Yama adalah dewa penghancur rasa sakit. Alam ini adalah saf keempat dari alam Sugati ( berarti alam surga tingkat ketiga ).   Alam ini   menjadi tempat bagi para dewa-dewi yang terbebas dari segala kesukaran, yang terberkahi dengan kebahagiaan surgawi. Pemegang kekuasaan dalam alam ini ialah  Suyâma . Alam ini berada di angkasa. Dalam alam ini dan tingkat yang lebih tinggi, tidak ada dewa-dewi yang tergolong sebagai  bhummattha  yang bertinggal di daratan. Istana, harta serta tubuh para dewa-dewi di alam ini jauh lebih indah dan halus daripada yang bertinggal di  Tâvatimsa . Rentang hidup mereka ialah 2,000 tahun dewa atau kira-kira 142 juta tahun manusia.

Inilah Surga Tingkat Ketiga Tavatimsa

Tavatimsa Alam  Tâvatimsa  adalah alam surgawi tingkat kedua. Alam ini sebelumnya / dulunya merupakan tempat tinggal para  asurakâya . Ini adalah alam Dewa saf berikutnya, saf ketiga dari alam Sugati. Secara harafiah berarti  : tiga puluh tiga.  Ini adalah alam surga dari tiga puluh tiga ( 33 ) Dewa dengan dewa Sakka sebagai rajanya. Asal-usul dari nama ‘ Tâvatimsa ‘ tersebut berkaitan dengan sejarah tiga puluh tiga relawan yang tidak mementingkan diri sendiri, yang dipimpin oleh Magha ( nama lain dari Sakka ), karena perbuatan-perbuatan baik mereka berhasil menyingkirkan para  asurakâya . , terlahir dialam surgawi iniDi dalam surga inilah Sang Buddha mengajarkan Abhidhamma kepada para Dewa selama tiga ( 3 ) bulan. Para dewa-dewi di  Tâvatimsa  terbagi menjadi dua kelompok, yaitu Bhummattha : Sakka beserta 32 dewa pembesar, Âkâsattha : yang bertinggal dalam istana di angkasa. Surga Tavatimsa ini terletak di atas puncak pegunungan Himala...

Inilah Surga Tingkat Kedua : Catummaharajika

Catummaharajika Ini merupakan alam surga yang paling rendah, saf kedua dari alam sugati, tempat Dewa-dewa Pelindung dari empat sudut cakrawala bertempat tinggal dengan para pengikut mereka. Alam  Câtumahârâjikâ  adalah suatu alam surgawi paling rendah yang berada dalam kekuasaan empat raja dewa, yakni: Dhatarattha , Virudhaka , Virûpakkha , dan Kuvera . Empat raja dewa ini juga dipercayai sebagai pelindung alam manusia, dan karenanya dikenal dengan sebutan ‘ Catulokapâla ‘. Dalam Kitab  Lokîyapakarattha , empat dewa pelindung dunia ini dipanggil sebagai Inda ( Sanskrit : Indra ) , Yama , Varuttha dan Kuvera . Berdasarkan tempat tinggalnya, para dewa-dewi tingkat  Câtumahârâjikâ  terbagi atas tiga, yaitu: Yang berada di daratan ( bhumattha ), Yang berada di pohon ( rukkha ). Dalam Kitab Ulasan atas Dhammapada dan Buddhavamsa, para dewa-dewi yang hidup di pohon dimasukkan dalam kelompok  bhummattha . Yang berada di angkasa ( âkâsa...

Inilah Surga Tingkat Pertama : Alam Manusia (manussabhûmi)

Alam Manusia ( manussabhûmi ), Yang menyebabkan suatu makhluk terlahir dialam manusia karena memegang teguh moralitas, yaitu melaksanakan  PANCASILA : Tidak membunuh makhluk hidup apapun juga. Tidak menyiksa dan menimbulkan penderitaan makhluk-makhluk apapun juga. Tidak mencuri, tidak mengambil barang yang tidak diberikan. Tidak berbuat sex yang menyimpang ( asusila ), menyetubuhi yang bukan haknya. Tidak berbohong, memfitnah, omong kasar, memecah belah dan lain-lain. Tidak meminum minuman keras yang menyebabkan lemahnya kesadaran ( memabukkan ). Alam manusia adalah suatu campuran dari rasa sakit dan kebahagiaan. Ini adalah alam saf pertama dari alam Sugati, tempat kita sekarang ini hidup dan menetap, untuk sementara, sebelum nanti kita mati. Di alam manusia ini, kita mengalami goncangan badai kekanan dan kekiri, yang dikenal dengan “delapan-kondisi-duniawi” ( Atthalokadhamma ), yaitu : Untung ( labha ) dan Rugi ( alabha ) Terkenal ( yasa ) dan Tidak Dikenal ( ayasa...

Jenis Jenis Hantu Menurut Agama Buddha

Secara harafiah, artinya adalah makhluk-makhluk yang telah meninggal, atau makhluk-makhluk yang sama sekali tanpa kebahagiaan. Mereka bukan arwah atau setan yang tidak berwujud. Mereka memiliki bentuk tubuh yang cacat yang besarnya bermacam-macam, pada umumnya tidak terlihat dengan mata telanjang. Mereka tidak memiliki alam sendiri, tetapi tinggal di hutan-hutan, lingkungan yang kotor, didalam rumah-rumah kosong, dan lain-lain. Alam Setan ‘ Peta ‘ terbentuk atas dua kosakata, yaitu ‘ pa ‘ yang berarti ‘ke depan, menyeluruh’, dan ‘ ita ‘ yang berarti ‘telah pergi, telah meninggal’. Berbeda dengan makhluk yang berada di alam neraka yang menderita karena tersiksa, peta atau setan hidup sengsara karena kelaparan, kehausan dan kekurangan. Kejahatan yang membuat suatu makhluk terlahirkan sebagai setan ialah pencurian, dan karma-karma buruk lainnya. Seperti binatang, setan tidak mempunyai alam khusus milik mereka sendiri. Mereka berada di dunia ini dan bertinggal di tempat-tempat seperti...

Jenis Jenis Neraka Menurut Agama Buddha

Niraya ( Ni + aya ; tanpa kebahagiaan )/ Neraka ( Sanskerta ) Yaitu alam keberadaan yang menyedihkan, tempat para makhluk menebus Kamma buruk mereka. Manusia yang dalam hidupnya cenderung kearah penganiayaan makhluk hidup, membunuh makhluk hidup apapun juga, dan senantiasa terjerembab dalam tindakan-tindakan jahat yang dilakukan baik oleh pikiran, ucapan, dan perbuatan, maka ia akan terlahir dialam Niraya ini. Sesungguhnya, anggapan bahwa neraka adalah tempat hidup yang kekal abadi bagi semua makhluk yang selama masa hidup sebelumnya banyak berbuat karma buruk, adalah keliru. Tidak ada yang kekal-abadi, termasuk didalam neraka sekalipun. Setelah habisnya Kamma buruk yang menyebabkan mereka “tercebur” kedalam alam penuh derita ini  ( sama-sekali tidak ada kesenangan, hanya derita yang ada ) , makhluk-makkhluk yang hidup dialam ini akan lahir kembali dalam alam-alam lain sesuai timbunan kamma-kamma mereka sendiri, yang telah mereka pupuk selama ribuan tahun rentang pengembaraann...

Roh Orang Meninggal Menurut Buddha

Agama Buddha menawarkan keterangan yang sangat memuaskan tentang dari mana kita datang dan apa yang akan terjadi setelah kita mati. Proses kelahiran kembali, yang disebut  punabbhava , secara harfiah berarti ‘menjadi lagi’. Sang Buddha berkata, untuk dapat terlahir kembali, tiga syarat harus dipenuhi: sepasang (calon) orang tua yang subur, hubungan seksual dan adanya  gandhabba .  Istilah ‘gandhabba’ berarti datang dari tempat lain’, mengacu pada suatu arus energi batin yang terdiri dari kecenderungan-kecenderungan, kemampuan-kemampuan dan ciri-ciri karakteristik yang meninggalkan badan yang telah mati. Ketika badan mati, ‘batin bergerak keatas’ ( uddhamgami )  dan mengembangkan diri lagi pada sel telur (calon) ibu yang baru saja dibuahi. Janin tumbuh, lahir dan berkembang sebagai pribadi baru, dengan diprasyarati, baik oleh karakteristik batin yang terbawa (dari kehidupan lampau) juga oleh lingkungan barunya. Kepribadiannya akan berubah dan bermodifikasi oleh u...

Apakah dunia kita akan kiamat menurut ajaran Buddha?

Dunia kita sebagai sesuatu yang tercipta pada suatu waktu nanti tentu akan hancur. Kehancuran dunia itu disebut kiamat, yang ditandai dengan terjadinya keadaan alam yang makin memburuk. Dalam agama Buddha tidak disebutkan kapan akan terjadi kehancuran itu. Segala sesuatu yang tercipta tidak kekal adanya  Apabila dengan kebijaksanaan orang dapat melihat hal ini  Maka ia akan merasa jemu dengan penderitaan  Inilah Jalan yang membawa pada kesucian  (Dhammapada 277) Maka akan datanglah waktunya bahwa dunia yang perkasa ini akan dilahap oleh api, musnah, dan tidak ada lagi.  Tetapi hal ini bukan berarti akhir penderitaan bagi makhluk-makhluk yang digelapkan oleh Avijja dan dibelenggu oleh Tanha berlari berputar-putar dalam lingkaran tumimbal lahir.  Demikian sabda-Ku. (S.XXII) Catatan : Agama Buddha mengajarkan bahwa segala sesuatu yang tercipta akan lenyap kembali. Alam semesta yang kita diami ini adalah sesuatu yang tercipta, maka pada suatu waktu...

Apakah ajaran utama Sang Buddha?

  Ajaran utama Sang Buddha terangkum dalam Empat Kesunyataan Mulia yang di dalamnya berisikan Jalan Utama Berunsur Delapan. Selain itu terdapat pokok-pokok ajaran Sang Buddha lainnya seperti Hukum Kamma, Paticca Samuppada dan Tilakkhana. Secara ringkas ajaran Sang Buddha tergambarkan dalam bait Dhammapada 183 : Janganlah berbuat jahat  Tambahlah kebaikan  Sucikan hati dan pikiran  Itulah ajaran semua Buddha

Berapa kalikah manusia hidup di dunia menurut ajaran Buddha?

 Manusia dapat hidup berkali-kali di dunia. Setelah seseorang meninggal dunia, maka ia akan dilahirkan kembali sesuai dengan perbuatannya. Kalau ia banyak berbuat kebaikan, maka dapat terlahir kembali di alam -surga atau di alam manusia kembali. Bila ia banyak berbuat tidak baik, dapat terlahir kembali di alam binatang, alam setan atau neraka. Setelah kehidupannya di alam-alam tersebut berakhir, maka ia akan terlahir kembali di alam lainnya sesuai dengan buah perbuatannya. Demikianlah hal itu berlangsung terus menerus sampai tercapainya Nibbana (Kesucian Tertinggi).

Apa yang dimaksud dengan setan menurut ajaran Buddha?

 Setan adalah makhluk halus yang tidak tertampak oleh mata kita, yang tinggal di alam yang tidak menyenangkan akibat perbuatan tidak baik yang dilakukan sebelumnya. Kehidupan di alam setan merupakan kehidupan yang menyedihkan, penghuninya merasakan keadaan kehausan dan kelaparan serta keinginan yang tidak pernah terpuaskan. Setan mempunyai banyak bentuk yang berbeda-beda dan dapat terlahir kembali ke alam lain sesuai dengan perbuatannya.

Apa artinya dewa menurut ajaran Buddha?

Dewa adalah makhluk yang tinggal di alam surga sebagai buah dari perbuatan baiknya. Di surga para dewa menikmati kebahagiaan dan kesenangan, namun kebahagiaan dan kesenangan itu tidaklah kekal. Apabila masa hidupnya sebagai dewa berakhir, maka ia akan dilahirkan di alam lain sesuai dengan perbuatannya. Catatan : Dalam agama Buddha diajarkan adanya berbagai alam surga. Lama kehidupan di alam surga sangat lama dan berbeda-beda sesuai dengan tingkat surganya. Pada surga yang terendah masa kehidupan makhluknya adalah sekitar sembilan juta tahun manusia. Surga bagi mahkluk-makluk yang telah mencapai jhana (tingkat meditasi) disebut alam Brahma.

Bagaimana caranya untuk masuk surga menurut ajaran Buddha?

 Untuk dapat terlahir kembali di alam surga, kita harus mentaati Pancasila Buddhis dan melakukan perbuatan baik seperti berdana. Lebih baik lagi apabila dapat melatih diri dalam meditasi. Sebagian orang terlahir melalui kandungan  Pelaku kejahatan terlahir di alam neraka  Orang yang berkelakuan baik pergi ke surga  Dan orang yang bebas dari kekotoran batin mencapai Nibbana  (Dhammapada 126) Catatan : Pancasila Buddhis adalah janji moral umat Buddha untuk melatih diri tidak melakukan pembunuhan, pencurian, perbuatan asusila, kebohongan dan minum minuman keras yang memabukkan dan menimbulkan ketagihan.

Mengapa semua orang bisa meninggal dunia menurut ajaran Buddha?

 Orang meninggal dunia karena masa kehidupannya di dunia ini telah habis sesuai dengan kammanya. Tidak ada seorang pun yang terbebas dari kematian, karena seseorang yang terlahir tentu akan mati. Apabila dalam kehidupan yang lampau seseorang banyak melakukan pembunuhan, maka dalam kehidupan sekarang ia akan pendek umur.Anak-anak tidak dapat melindungi Begitu juga ayah maupun sanak saudara. Bagi orang yang menghadapi kematian  Maka tidak ada sanak saudara yang dapat melindungi dirinya lagi  Setelah mengetahui kenyataan ini  Maka orang berbudi dan bijaksana tak akan menunda waktu  Dalam menempuh jalan menuju Nibbana (Dhammapada 288-289)

Mengapa kita bisa panjang umur menurut ajaran Buddha?

Kita bisa panjang umur bila banyak melakukan perbuatan baik dengan banyak menolong mahluk lain dan menghormat kepada yang patut dihormat. Ia yang selalu menghormati dan menghargai orang yang lebih tua Kelak akan memperoleh empat hal yaitu umur panjang, kecantikan, kebahagiaan dan kekuatan (Dhammapada 109)

Mengapa kita harus berbakti kepada orang tua menurut ajaran Buddha?

  Kita harus berbakti kepada orang tua sebab orang tualah yang melahirkan dan merawat kita sejak lahir sampai dewasa. Semua orang mempunyai hutang budi yang sangat besar kepada orang tuanya yang tidak dapat terbalaskan meskipun umpamanya ia menggendong orang tuanya selama seratus tahun sekalipun. Berlaku baik terhadap ibu merupakan kebahagiaan dalam dunia ini  Berlaku baik terhadap ayah juga merupakan kebahagiaan  Berlaku baik terhadap pertapa merupakan suatu kebahagiaan dalam dunia ini  Berlaku baik terhadap para Ariya juga merupakan kebahagiaan  (Dhammapada 332)