Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Informasi

Yang menyebabkan suatu makhluk terlahir di alam empat alam menyedihkan

Yang menyebabkan suatu makhluk terlahir di alam “Dugati” / empat alam menyedihkan ( disebut juga  “apaya-bhumi”  ) adalah karena : Tidak pernah Berdana ( bersedekah ) Tidak menjaga Sila ( Moralitas : Setidaknya ada lima Sila yang harus dijaga, yaitu : 1. Tidak membunuh makhluk hidup apapun juga (termasuk binatang) , 2. Tidak mengambil barang yang tidak diberikan, 3. Tidak berbuat sex yang menyimpang / tidak seharusnya ( perilaku cabul, perzinahan, dll ). 4. Tidak berucap dusta, 5. Tidak meminum minuman / obat-obatan yang menyebabkan lemahnya kesadaran ( yang memabukkan, seperti narkoba, extasy, minuman keras / beralkohol, dll. ) ) Tidak pernah mempunyai rasa hormat kepada orang-orang lain. ‘Duggati’ terbentuk dari dua kosakata, yakni ‘ du ‘ yang berarti ‘jahat, buruk, sengsara’, dan ‘ gati ‘ yang berarti ‘alam tujuan bagi suatu makhluk yang akan bertumimbal lahir’.  Duggatibhûmi  adalah suatu alam kehidupan yang buruk, menyengsarakan. Walaupun kerap dipakai s...

Dimensi Waktu Alam Dewa atau Surga

Alam manusia, menggunakan ukuran tahun yang telah diciptakan dan disepakati secara bersama-sama oleh manusia sendiri hingga saat ini, dimana satu hari adalah 24 jam, satu minggu adalah tujuh (7) hari, satu bulan adalah 31 ( atau 30 ) hari, satu tahun adalah 12 bulan. Alam para hantu ( Niraya, Petayoni, dan Asurayoni ), umumnya berusia lebih panjang daripada usia manusia dan alam hewan ( Tiracchanayoni ), bahkan ada yang mencapai jutaan tahun menurut hitungan manusia. Untuk alam surgawi, yakni alam para dewa yang hidup pada alam Kamaloka ini, maka dimensi waktu disana adalah sebagai-berikut : a). 50 tahun manusia = 1 hari 1 malam bagi alam Dewa Catummaharajika b). 100 tahun manusia = 1 hari 1 malam bagi alam Dewa Tavatimsa c). 200 tahun manusia = 1 hari 1 malam bagi alam Dewa Yama d). 400 tahun manusia = 1 hari 1 malam bagi alam Dewa Yusita e). 800 tahun manusia = 1 hari 1 malam alam Dewa Nimmanarati f). 1600 tahun manusia = 1 hari 1 malam alam Dewa Parinimmitavasavatti ...

Penciptaan Dan Kiamat Bumi Serta Manusia Menurut Agama Buddha

Kejadian Dan Kehancuran Bumi Serta Manusia Menurut Buddha Sasana oleh: Cornelis Wowor, M.A. ALAM SEMESTA         Menurut pandangan Buddhis, alam semesta ini luas sekali. Dalam alam semesta terdapat banyak tata surya yang jumlahnya tidak dapat dihitung. Hal ini diterangkan oleh Sang Buddha sebagai jawaban atas pertanyaan Bhikkhu Ananda dalam  Anguttara Nikaya  sebagai berikut: Ananda, apakah kau pernah mendengar tentang seribu  Culanikaloka dhatu  (tata surya kecil)? ...Ananda, sejauh matahari dan bulan berotasi pada garis orbitnya, dan sejauh pancaran sinar matahari dan bulan di angkasa, sejauh itulah luas seribu tata surya. Di dalam seribu tata surya terdapat seribu matahari, seribu bulan, seribu  Sineru , seribu  Jambudipa , seribu  Aparayojana , seribu  Uttarakuru , seribu  Pubbavideha , empat ribu maha samudra, empat ribu maha raja (manusia), seribu  Catummaharajika , seribu  Tavatim...

Solusi Kemarahan Menurut Agama Buddha

Umat Buddha Dan Solusi Kemarahan oleh: YM Bhikkhu Uttamo Khobah Dhamma di Denpasar Tanggal 15 Pebruari 1994. TIPE UMAT BUDDHA         Dapat diterangkan di sini bahwa tipe atau jenis umat Buddha itu ada bermacam-macam. Jenis kelompok umat yang pertama adalah:  Umat Buddha KTP . Jadi ke mana-mana disombongkan: "Ini lho, KTP saya: Buddhis!" Kalau mereka ditanya, bagaimana riwayat Sang Buddha? Jawabnya: "Ah, itu bukan urusan saya. Itu urusannya para bhikkhu dan para Dharmaduta. Pokoknya saya Buddhis". Ditanya viharanya di mana. Jawabnya: "Bukan urusan saya. Itu urusannya orang-orang yang mau jadi bhikkhu". Ditanya buku parittanya apa, dijawab: "Buku paritta bukan urusan saya. Saya susah membaca paritta". Paritta apa saja yang dihafal? Jawabnya: "Untuk apa menghafal paritta? Lidah saya keseleo-keseleo!" Jadi kamu Buddhis-nya apa? "K-T-P! Toh kalau KTP-nya Buddhis, juga bisa masuk surga, cukup". Kalaupun mau ditambah sed...

Menyesali Masa Lalu Menurut Agama Buddha

Tidak Ada Manfaatnya Menyesali Masa Lampau oleh: Bhikkhu Uttamo Memang benar. Penyesalan yang sudah terjadi tak ada gunanya untuk disesali. Tetapi seharusnya kita sadari dan memperbaiki kekeliruan yang sudah terjadi dengan suatu tindakan yang lebih baik supaya hal yang belum tercapai dapat diraih. Untuk lebih jelasnya mari kita simak artikel berikut ini.         Kelihatannya pokok bahasan ini sederhana, tapi kita akan melihat sejauh mana kita mampu melaksanakan ajaran  Sang Buddha . Kalau kita melihat dari paritta yang pernah kita bacakan, dan kalau kita mau membalik-balik buku Dhamma di sekitar kita, kadang-kadang muncul kebingungan. Karena banyaknya buku-buku tersebut, umat yang masih baru menjadi bingung dan akan berpikir: "Dari mana saya harus mulai belajar? Apakah saya harus mulai belajar mengenai sila, ataukah dari mengikuti kebaktian di vihara-vihara, atau dari membaca buku-buku atau dari yang lainnya?" Oleh karena itu, agar An...

Penyebab Kematian Menurut Agama Buddha

Penyebab Kematian oleh: Bhikkhu Uttamo Sungguh sulit untuk dapat dilahirkan sebagai manusia, sungguh sulit kehidupan manusia, sungguh sulit dapat mendengarkan Ajaran Benar, begitu pula, sungguh sulit munculnya seorang Buddha.  (Dhammapada XIV, 4)         Saat ini kita bersama telah membacakan Paritta dalam rangka peringatan wafatnya  Romo Sakyamitra . Dengan peringatan semacam ini, dan dihadiri oleh sekian banyak orang, apakah yang sebetulnya bisa kita dapatkan? Apakah yang bisa kita mengerti untuk bekal kehidupan kita?  Romo Sakyamitra  telah 5 tahun meninggalkan keluarganya, meninggalkan anak-anaknya. Tentu saja, ditinggalkan oleh seorang yang dicintai merupakan suatu peristiwa yang cukup berat: istri ditinggal suami, suami ditinggal istri, ayah ditinggal anak. Memang berat, apalagi ditinggal untuk tidak kembali selamanya. ltu bukan urusan kecil. Oleh karena itu, secara tradisi, kita mengadakan peringatan kematian o...

Nasib Dapatkah Diubah Menurut Agama Buddha

Nasib Dapatkah Diubah? oleh: Bhikkhu Uttamo Thera PENDAHULUAN Kemajuan jaman telah banyak mengubah perilaku manusia. Semakin lama semakin marak penggunaan teknologi canggih untuk mempermudah seseorang menjalani kehidupan. Seseorang yang ingin mengadakan perjalanan jauh, semula hanya mampu mempergunakan mobil, kini ia dapat menggunakan pesawat terbang. Pemanfaatan pesawat TV meningkatkan perolehan arus informasi global yang semula hanya didapat dari surat kabar dan radio saja. Demikian banyak segi kehidupan yang telah dipengaruhi oleh kemajuan jaman. Akan tetapi, meskipun jaman telah banyak berubah, masih cukup banyak sikap dan cara berpikir masyarakat yang relatif tetap. Konsep tentang nasib, misalnya. Sampai saat ini, masih banyak orang yang mempercayai adanya nasib. Mereka menganggap nasib telah ditentukan terlebih dahulu sebelum seseorang dilahirkan ke dunia. Nasib berlaku sejak dilahirkan sampai dengan meninggal. Nasib ini tidak akan dapat diubah walau sedemikian hebat se...