Dalam Agama Buddha ada beberapa penyebab kematian.
- Penyebab kematian yang pertama adalah ‘habis jatahnya’, ‘habis bahan bakarnya’ sebagai manusia. Karena besarnya karma baik kitalah maka kita bisa lahir sebagai manusia, dan kita mempunyai batas waktunya – ‘jatah’. ada yang ‘jatahnya’ menjadi manusia hanya tiga bulan. Jadi dikandung 3 bulan mati dia. Ada yang jatahnya 5 tahun. Begitu umur 5 tahun, dia mati. Maka jangan tanyakan: ‘Kenapa ia meninggal pada usia 5 tahun?’ ‘Jatahnya’ memang cuma 5 tahun. Ada yang menanyakan: ‘Apakah kalau mati muda itu pertanda karma buruk?’ Belum tentu! ‘Apakah kalau mati tua itu pertanda karma baik?’ Belum tentu! Semua itu tergantung di alam mana dia akan terlahir kembali. Bila dia mati umur 3 tahun tetapi setelah mati terlahir di surga, itu berarti matinya dapat memetik buah karma baik. Daripada susah-susah menjadi manusia, pusing-pusing memikirkan segala macam, lebih baik mati kemudian lahir di surga, happy-happy. Walaupun umur 90 tahun baru meninggal, bila lahirnya kemudian di alam neraka …. inilah buah karma buruk! Lebih enak di dunia, biar tua tetapi happy-happy. Bisa jalan ke sana sini. Daripada lahir di alam neraka yang merupakan alam menderita. Jadi, kematian itu sendiri sebetulnya tidak harus menunjukkan dia itu melakukan karma buruk atau tanam karma buruk. Belum tentu! Bisa baik, bisa buruk tergantung di mana dia terlahirkan kembali kemudian. Tapi yang jelas, Orang yang mati umur 3 tahun, 5 tahun, atau 15 tahun, pokonya yang sering kita anggap mati muda, kematiannya disebabkan karena memang ‘jatahnya’ sebagai manusia sudah habis.
- Penyebab kedua. Kematian itu seperti lilin ini, tetapi sumbunya tidak sampai bawah. Sumbu hanya separo, atau sumbunya hanya seperempat. Jadi lilinnya hidup sampai sumbunya habis. Apinya lalu mati, walaupun lilinya masih panjang. Ini menunjukkan bahwa umur badan manusianya sudah habis. Umur rata-ratanya sudah selesai, umur jasmaninya sudah sampai. Misalnya, berapa usia jasmani rata-rata yang dapat kita miliki sekarang? Kalau ketahanan jasmani rata-rata adalah 50 tahun, maka begitu sampai usia 50 tahun, matilah dia. Walaupun jatahnya sebagai manusia masih ada, namun dia mati. Setelah maninggal, mungkin dia bisa terlahir sebagai manusia lagi. Misalnya, mestinya jatahnya sampai berusia 100 tahun, tetapi baru 50 tahun dia sudah mati. Maka mungkin dia akan terlahir lagi sebagai manusia, melanjutkan sisanya yang 50 tahun lagi. Jatahnya dihabiskan, kalau sempat. Tetapi kalau tidak, yang 50 tahun sebagai manusia ini ditunda. Mungkin nanti di dalam sekian periode kehidupan baru dia ambil sisa jatah kehidupannya sebagai manusia ini. Tetapi pokoknya dia masih memiliki sisa. Sisa ‘jatah’ sebagai manusia. Kita mungkin bertanya: ‘Umur berapa ketika meninggal?’ ‘Enam puluh’. ‘Sudah pantas. Sudah cukup merasakan kesenangan dunia.’ Namun bukan berarti bahwa seseorang yang sudah berumur 60 tahun harus mati. Semua makhluk berproses sesuai dengan karmanya sendiri-sendiri. Kalau yang pertama tadi lilinnya habis, jatah manusianya habis, yang kedua ini sumbunya habis. Kekuatan jasmaninya sudah habis walaupun jatah hidupnya sebagai manusia masih cukup.
- Penyebab yang ketiga adalah lilinnya habis berbareng dengan habisnya sumbu. Hal ini menunjuk pada kematian seseorang karena habisnya kekuatan jasmani bersamaan dengan habisnya karma yang mendukung kehidupannya sebagai manusia. Seperti lilin yang ketika dipakai, panjang sumbu dan jumlah lilin itu pas sama. Begitu api sampai di bawah, dia mati. Sumbunya pun tidak mempunyai sisa lagi. Lilinnya juga habis. Minyaknya sudah habis. Inilah orang yang mati lengkap. Memang masa hidupnya hanya sedemikian itu, usia manusianya juga hanya sampai di situ. Jadi, misalnya sekarang usia hidup manusia rata-rata 50 tahun dan dia jatah hidupnya pun hanya 50 tahun. Jadi, ketika meninggal, selesailah sudah semuanya.
- Penyebab keempat. Lilin masih panjang, sumbunya juga masih panjang, tetapi apinya mati terkena kipas angin. Inilah kematian karena kecelakaan. Bila usia kehidupan manusia rata-rata tadi 60 tahun, dia meninggal dalam usia 30 tahun. Mengapa? Mungkin ia meminum pembasmi serangga. Dia berkeputusan menghabisi umurnya sendiri. Atau orang yang mati kecelakaan. Namun, tidak semua orang yang meninggal karena kecelakaan itu adalah kematian yang seperti api lilin mati tertiup angin. Bisa juga karena habis karmanya sebagai manusia. Walaupun sumbunya masih panjang tetapi lilinnya sudah habis. Kondisi itu juga bisa menyebabkan seseorang mati kecelakaan. Tetapi yang jelas, ini adalah salah satu cara kematian karena hal-hal diluar dugaan.
Sungguh sulit untuk dapat dilahirkan sebagai manusia,
sungguh sulit kehidupan manusia,
sungguh sulit dapat mendengarkan Ajaran Benar,
begitu pula, sungguh sulit munculnya seorang Buddha.(Dhammapada XIV, 4)
sungguh sulit kehidupan manusia,
sungguh sulit dapat mendengarkan Ajaran Benar,
begitu pula, sungguh sulit munculnya seorang Buddha.(Dhammapada XIV, 4)
