Sebagai perumah tangga atau umat Buddha yang tinggal dalam masyarakat tentunya cukup wajar apabila tertarik dengan hal-hal yang bersifat keduniawian. Namun, hal yang perlu diperhatikan dan dimiliki oleh setiap umat Buddha adalah kemampuan seseorang untuk menerima kenyataan apabila tidak sesuai dengan keinginan atau harapan.
Adalah wajar kenyataan tidak selalu sesuai harapan atau keinginan. Seseorang hanya mampu mengubah keinginan. Ia tidak akan pernah mampu mengubah kenyataan. Apabila ia selalu mampu mengubah keinginan sehingga sesuai kenyataan, maka harapan dan cita-cita yang tinggi sekalipun tidak akan pernah mengecewakannya. Ia selalu mampu mengendalikan diri ketika harapan tidak tercapai. Sikap mental seperti ini menunjukkan ia tidak lagi melekat atau terikat. Ia tidak lagi menderita karena keinginannya.
Salah satu cara untuk menyesuaikan keinginan dengan kenyataan adalah dengan sering mengucapkan dalam batin kata MEMANG. Artinya, ketika ia menghadapi kenyataan yang berbeda dengan harapan, ia hendaknya menyebutkan, ‘Memang demikian kenyataannya’. Kalau ia sudah mampu selalu menyebutkan kata ‘memang’ pada setiap kenyataan yang dihadapi, batin menjadi tenang dan bahagia. Ia telah mampu menerima kenyataan sebagaimana adanya.
Setelah mampu menerima kenyataan sebagaimana adanya, ia hendaknya mempergunakan kenyataan tersebut untuk meningkatkan kualitas diri. Kenyataan positif, hendaknya dicari faktor penyebabnya agar dapat ditingkatkan di masa sekarang maupun masa depan. Sedangkan, kenyataan negatif, hendaknya dicari penyebabnya agar dapat diperbaiki ataupun dihindari di masa sekarang atau di masa depan. Dengan demikian, hidup dari saat ke saat selalu bahagia karena menerima kenyataan dan mampu menggunakan kenyataan apapun juga untuk meningkatkan kualitas diri.
- https://samaggi-phala.or.id/naskah-dhamma/tanya-jawab-dengan-bhikkhu-uttamo-03-2/
