Dalam salah satu sumber Dhamma disebutkan bahwa tujuan hidup seorang umat Buddha adalah untuk mencapai kebahagiaan. Kebahagiaan yang dimaksudkan di sini, paling tidak, ada tiga macam yaitu : Pertama, kebahagiaan duniawi yang ditandai dengan terpenuhinya, minimal empat kebutuhan pokok yaitu makanan, pakaian, tempat tinggal dan sarana kesehatan. Kemudian, apabila tujuan keduniawian ini sudah tercapai, ia dapat meningkatkan kebajikan dengan membagikan kelebihan empat kebutuhan pokok ini kepada fihak lain. Tindakan meningkatkan kebajikan ini sesungguhnya termasuk tujuan hidup yang kedua yaitu kebahagiaan surgawi. Maksud tujuan hidup kedua ini adalah jika seseorang telah banyak melakukan kebajikan selama hidupnya, setelah meninggal dunia, ia akan dapat terlahir di salah dari sekian banyak alam surga. Adapun tujuan hidup yang ketiga dan merupakan tujuan tertinggi dalam Agama Buddha adalah kebahagiaan karena tidak terlahirkan kembali di alam manapun juga, termasuk alam surga. Tujuan ini dapat tercapai apabila seorang umat Buddha berusaha dengan keras untuk selalu mengembangkan kesadaran pada saat ia bertindak, berbicara maupun berpikir. Kesadaran yang maksimal inilah akan melenyapkan ketamakan, kebencian serta kegelapan batin yang dimilikinya. Lenyapnya ketiga akar perbuatan ini disebut sebagai pencapaian kesucian atau Nibbana. Seseorang yang telah mencapai kesucian tidak akan terlahir di alam manapun juga setelah ia meninggal dari alam manusia. Inilah tujuan hidup yang tertinggi.
Dalam mempelajari serta melaksanakan Ajaran Sang Buddha, seorang umat Buddha hendaknya selalu berusaha memperbaiki cara bertindak, berbicara serta berpikir agar sesuai dengan Buddha Dhamma. Perubahan ini dapat dilakukan tanpa harus menjadi bhikkhu. Sesungguhnya, menjadi seorang bhikkhu adalah pilihan dalam hidup, bukan merupakan keharusan. Oleh karena itu, di jaman Sang Buddha sekalipun banyak umat Buddha perumah tangga biasa yang mencapai kesucian. Oleh karena itu, ketika seseorang mengenal Ajaran Sang Buddha dan berusaha melaksanakannya dengan sungguh-sungguh melalui tindakan badan, ucapan serta pikirannya agar selalu sesuai dengan Buddha Dhamma, maka ia telah memanfaatkan hidupnya dengan baik. Ia tidak menyia-nyiakan hidupnya yang telah mengenal Buddha Dhamma, walaupun ia tetap hidup sebagai umat perumah tangga dan bukan menjadi bhikkhu. Sesungguhnya, hal terpenting dalam Buddha Sasana adalah melaksanaan Dhamma dalam kehidupan sehari-hari, bukan harus menjadi bhikkhu ataupun perumah tangga.
Sumber : Tanya Jawab Bhikkhu Uttamo.Pdf